Sejak awal Januari hingga beberapa hari terakhir ini, begitu banyak development baru untuk garden accessories yang dikirim oleh agen. Mereka antusias sekali mengirimkan model – model dan design contoh – contoh item yang sedang diminati di US dan sangat laris. Development tersebut terutama untuk kategori fountain dan garden statue, berbahan batu cetak/ sand with resin. Memang designnya sederhana tetapi terlihat fun and cute. Hanya saja, designnya masih terbilang complicated. Jika dilihat dan dicermati lebih seksama, material yang digunakan pada gambar – gambar tersebut halus dan sepertinya mahal.
Seandainya perusahaan ini memutuskan untuk membuat hal yang semacam itu, tentunya harus menggunakan material yang murah, supaya bisa mendapatkan item yang terlihat hampir mirip, feelnya kena, serta murah.
Pertanyaannya sekarang, apakah perusahaan akan melanjutkan development tersebut ataukah tidak?
Mengingat situasi yang serba kritis dan susah seperti sekarang, tampaknya perusahaan ini akan pikir - pikir 2 kali untuk membuat development dari bahan tersebut.
Pengalaman sejak 1 tahun yang lalu, atasan sudah beberapa membuatkan development yang sama. Bahkan sudah ada banyak sample yang di display di showroom.
Bahkan, saat kunjungan buyer kira – kira 2 tahun lalu, saya sempat membuat 2 sample serupa, yang berbahan sand and cement cetak berupa frog fountain and frog statue. Namun karena alasan sample yang saya buat kurang mirip sedikit saja dengan master sample, yaitu bentuk kurang besar ½” dan mata yang konon still looks scary, sempat membuat saya uring - uringan. Mengingat sample sudah tersedia 3 pcs, walaupun sedikit berbeda dengan master sample tetapi overall 3 pcs sample tersebut masih mirip. Hanya karena factor di atas, makanya kerjaan orang yang sudah lebih dari 3 minggu produksi (hanya untuk 3 pcs), menjadi sia - sia.
Material yang digunakan memang semuanya sand with resin bahkan ada yang sand with cement dan batu alam asli. Tetapi, perusahaan ini, kurang begitu pengalaman dengan sample dari bahan jenis serupa. Seandainya pun bisa mengerjakan sample serupa, tentu akan menjadi mahal. Hal ini dikarenakan karena factor awal pengerjaaan di dahului dengan pembuatan bakal berupa patung, yang nantinya akan dibuatkan cetakan dari bahan clay/gips. Pada proses ini saja sudah biaya yang diperlukan. Supplier tentu tidak mau jika hanya untuk pembuatan sample 3 pcs saja sudah makan biaya dan waktu sebesar ini. Jadi tidaklah heran, jika kemudian harga yang dikenakan mahal. Supplier tentu tidak mau rugi, kan?
Untuk pengerjaan selanjutnya, setelah sample OK, tentu yang diharapkan adalah turunnya order. Tetapi yang selama ini terjadi, terlalu banyak sample yang dikirim tetapi order yang turun tidaklah seberapa. Selama ini terlalu banyak development yang dibuat dan rugi terlalu banyak. Di lain pihak saya merasa kemungkinan design sample – sample tersebut tidak ada yang diminati atau tidak ada yang seperti selera pasar customer sehingga jarang mendapat order.
Dalam hal ini, dimana letak salahnya?
Merchandiser selama ini bertugas hanya mengirimkan sekian banyak sample yang sudah jadi. Tetapi selama ini, sepertinya Merchandiser tidak pernah terlalu ikut dilibatkan untuk pengembangan sample. Mereka hanya menerima product yang sudah jadi. Setiap ada kunjungan dari agen ataupun buyer, tentu yang ditanya duluan mestinya Merchandiser karena dianggap dialah yang membuat sample tersebut, padahal sebenarnya tidak. Merchandiser hanya menerima apa yang sudah jadi, that’s it. Setelah ada order sample ataupun order barang jumlah besar/kecil, saat itulah peran Merchandiser diperlukan. Mereka harus tahu detail setiap barang yang diminta sample. Pada tahap ini, Merchandiser benar – benar berperan. Tetapi sebelumnya, saat sample dibuat untuk kepentingan kunjungan, Merchandiser tidak pernah dimintai saran/pendapat/kritik mengenai sample yang sudah tersedia. Apakah menurut mereka, pendapat Merchandiser tidaklah terlalu penting?
Designer/ tim pengembangan sample, departemen inilah sebenarnya yang paling lucu, menurut saya. Selama ini, mereka hanya bisa membuat design apa yang diberikan oleh atasan. Seandainya ada perubahan, itupun designnya paling beda sedikit dan selebihnya, masih terlihat sama. Mereka dipatok untuk membuat design yang disukai oleh atasan. Mereka tidak bebas berekspresi mengembangkan design yang disukai pasar Amrik.
Kadangkala, ada pula perasaaan iri dengan perusahaan lainnya, dimana peran Merchandiser juga sering diikutkan untuk menilai sebuah sample dan memberikan pendapat apa yang semestinya dilakukan. Seandainya saja perusahaan ini mau sedikit open-minded dan open-arm, tentu akan banyak menerima masukkan untuk mengembangkan product lebih bagus lagi. Dan tentunya akan lebih bervariasi dan apik. Tapi, kapan?
Semakin saya merenungi hal ini, membuat saya semakin bingung. Tuntutan dari atasan adalah menjual sebanyak – banyaknya product dengan aneka bentuk dan design.
Tetapi, jika product yang di offer tersebut tidak ada yang diminati oleh customer dan harganya mahal, so, apa yang mesti dilakukan?
No comments:
Post a Comment