Kemarin, Minggu tgl. 8 Februari, 2009 adalah hari pertama debut saya giliran supervise para SPG/B di retail kami di Centro. Hari pertama tersebut saya rasakan menyenangkan sekaligus menyebalkan. Mengapa demikian? Karena ada beberapa kejadian lucu yang kami hadapi tetapi juga kejadian buruk yang terjadi.
Sebelumnya, hanya para kolega saya saja yang bertugas karena mayoritas mereka adalah pria. Jadi, saya adalah perempuan pertama yang mendapat giliran jaga, berhubung teman – teman lain berhalangan. Big Boz sebenarnya sempat khawatir, apakah tidak apa – apa bagi saya untuk jaga di Centro karena masalah jarak dan khawatir supaya nanti tidak kemalaman pulangnya. Well, kata Boz Cewek sih tidak apa – apa, supaya dapat saja giliran.
Tetapi dalam hati saya benar – benar kecewa, kenapa mesti harus mendapat giliran. Padahal, sepengetahuan saya, SPG/B sudah cukup mahir dan bisa menghandle customer mereka. Mengapa perlu orang pusat yang turun tangan lagi? Saya sebenarnya ½ hati untuk menjalani tugas ini, karena selain hari minggu dan hari libur, selain itu adalah karena saya sebenarnya ingin ke salon supaya terlihat fresh saat bertemu Agent hari Senin besok. Lagi – lagi saya hanya bisa mengumpat, SIAL!
Sore itu juga, Sabtu tgl. 7 Februari 2009, sepulang kerja jam 15.10 WITA saya berangkat ingin survey tempat, karena besok adalah debut pertama saya di tempat itu, dan janjian dengan teman saya supaya nati bisa barengan saat berangkat. Tetapi rupanya saya sedikit tersesat karena salah masuk jalan, jadinya saya mau tidak mau berbohong dengan teman saya dengan alasan ban pecah. Sial!
Dengan modal feeling dan feeling, saya ketemu juga dengan lokasinya. Walaupun (lagi – lagi) ada sedikit incident get lost, akhirnya saya ketemu teman saya dan juga counternya, Kenari Bali di lantai 2.
Kesan pertama saya adalah, sempit dengan penataannya terlalu berdekatan dengan 1 meja dan rack display lainnya. Entah apa memang sengaja begini atau bagaimana, tetapi saya memang tidak peduli amat. Tetapi kejadian yang benar – benar di luar dugaan adalah, baru beberapa menit saya di sana, yang benar – benar tidak ada hujan tidak ada petir tidak ada gempa, tiba – tiba rak display aluminium ware, jatuh tanpa sebab. 2 rak di tengah – tengah, kebetulan ambruk, barang – barangnya jatuh persis seperti gelas pecah. Namun syukur barang – barangnya aluminium dan MUNGKIN lecet sedikit
Setelah di perhatikan ternyata tempatnya memang sudah rapuh dan tidak kuat dengan tanpa adanya penyangga L. Sementara barang – barangnya sendiri “dipaksakan” display dan memang sudah sangat berat sekali. Rak yang konon adalah rak display sepatu, perlahan – lahan mengendur dan kemungkinan ada “kunci” atau penyangga yang lepas. Tetapi saya benar – benar tidak tahu sekaligus tidak pernah membayangkan sebelumnya. Saya benar – benar kaget bukan kepalang karena shock. Jadi, supaya rak tidak terlihat kosong dan akan mengundang kecurigaan pengunjung, maka diputuskan hanya mendisplay barang – barang kecil dan ringan saja, sementara yang lain di pindahkan/di simpan di tempat lain saja.
Dengan perasaan masih kaget, teman saya mengajak jalan – jalan, melihat situasi di tempat itu. Saya di antar berkeliling dan semabri melihat counter lain yang menjual product kami juga, Tanda Mata yang berlokasi di lantai 3. Saat masuk, kesan tempo dulu benar – benar terasa, karena penataan interior di sesuaiakan dengan barang – barang yang ada. Di sini, product handicraftnya benar – benar tidak ada yang menyaingi karena hanya sendirinya saja yang menjual handicraft di lantai itu. Product handicraft lainnya kebanyakan ada di lantai 1 dan dua. Lantai 2 adalah tempat handicraft dan souvenir. SPG/B diberikan kostum supaya seragam dan rapi. Saya tidak melihat, entah mana karyawan GB dan mana yang bukan karena terlihat sama semua.
1 jam selesai berkeliling, walaupun sedikit tidak puas dan karena saya tidak mau mengganggu kerja teman saya, maka saya pun pulang.
Keesokkan harinya, berangkat dari rumah jam 10.10 WITA, saya masih sempat memikirkan kejadian kemarin di perjalanan. Di jalan, saya menempuh jalan tercepat yaitu lewat bypass yang membuat saya tembus di jalan Gunung Soputan, sehingga saya bisa lebih dekar dan cepat ke arah Kuta. Jam 10.50 WITA saya sudah tiba di lokasi, karena saya tidak mau nanti pulang terlalu malam. Sementara dua orang SPG dan SPB sudah action di posisinya dan sudah ada customer pagi itu. Rupanya mereka buka jam 9.00 WITA. Saya berusaha beradaptasi. Beberapa menit kemudian saya melihat rak aluminium itu masih berdiri. Kemudian saya menemui seorang SPG lagi yang tengah membersihkan merchandise di lantai 2 dan menyarankan bagaiman jika sebaiknya sisa barang dibawah di display dan dicarikan tempat supaya tidak terlihat berserakan di bawah lantai di depan handicraft kayu. Selesai itu, saya sempat lama berkeliling di sendirian di lantai 2.
15 menit pertama saya sudah merasakan 100% bosan dan tidak ada aktivitas karena belum ada customer. 1 jam setelah itu saya memutuskan untuk berjalan – jalan mengelilingi areal luas Centro, tanpa membawa dompet ataupun HP. Dengan PeDe saya berjalan dan berkeliling seperti layaknya pembeli. Saya memasuki toko CD, VCD dan DVD, melihat – lihat beberapa koleksi film seri, maksudnya mencari kelanjutan HEROES season 3. Tetapi tidak ada. Kemudian saya berjalan dan tiba di sebuah toko buku PERIPLUS, saya melihat harga bukunya dan WOW, benar – benar tidak terjangkaukan. Kembali berkeliling, kali ini saya masuk ke SOGO. Saya hanya berjalan memutar dan melihat – lihat barangnya sebentar dan walaupun ada yang menarik perhatian saya, tetapi saya mesti keluar karena tidak tahan dengan mahalnya harga barang di sana, very High End quality.
Saya kemudian kembali berjalan dan berjalan dan memutuskan untuk kembali ke store. Saya bertemu para SPG/B dan bincang – bincang dengan mereka. Saya melirik jam dinding, well, masih jam 1 dan saya sudah BENAR – BENAR 100% BOSAN. Buku novel yang saya bawa tidak sempat say abaca, karena mengingat tidak ada tempat duduk sama sekali. Saya sudah merasa 100% bosan. Beberapa menit kemudian, ada beberapa customer masuk dan saya biarkan SPG/B yang menghandle. Saya hanya mengawasi dari jauh dan memperhatikan bahwa mereka telah melakukan tugas dengan baik.
Sekitar jam 12.00 datang seorang SPG baru, bernama Komang dari Karangasem. Baru pertama kali, dia langsung beradaptasi dan bergabung dengan yang lainnya. Saya lihat dia cukup bisa dan saya biarkan dengan teman – teman lainnya. Baru pas sekitar jam 12.00 WITA, datang shift malam, 2 orang SPG/B. Mereka tampaknya Balinese dan saya biarkan mereka bekerja, sementara saya sms teman – teman karena bosan tersebut.
Baru sesaat datang beberapa customer sore itu, jam 15.00, mulai berdatangan customer, saya hentikan sms dan konsen memperhatikan para SPG/B, jika mereka tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan, baru saya ikut andil. Tetapi kemudian datang seorang pembeli Australia, datang ingin membeli shadow box dragon. Tetapi karena dilihatnya barang itu sudah rusak dan ada sambungannya, mereka menawarkan barang lainnya. Customer tetap mau barang yang sama, Karena dia akan segera berangkat hari itu juga. Walaupun sempat ditawarkan barang lainnya, tetapi customer tidak mau dan memilih pergi, hilang sudah kesempatan pembeli shadow box. Stock sama sekali tidak ada, dan saya benar – benar kecewa.
Selang beberapa menit kemudian silih berganti datang beberapa customer lain dan ada sepasang suami istri Taiwan yang sangat lucu. Sang Istri ingin membeli patung garuda kecil, dia meneliti barangnya benar – benar dan tidak mau seandainya ada beberapa serabut kecil karena kurang halus saat di sanded. Jadi dia beberapa kali minta barang lainnya. Saat di lihat, dia sibuk menawarkan harga barang supaya lebih murah lagi. Walaupun sudah dikatakan discount 20% semua item, tetapi dia tetap ingin membayar 100 ribu saja dari 112 ribu seharusnya dia bayar. Cukup lama kami berargumentasi, tetapi kemudian dia sempat keluar. Tetapi beberapa menit kemudian dia kembali lagi akan membayar pakai card, dan kami akhirnya setuju. Di kasir, barang sudah terpacking dan kartu sudah di gesek. Tetapi si Istri berubah pikiran, jadinya dia ambil Garuda dengan Dewa Wisnu. Dia heran kenapa berbeda, dan kami katakan kalau yang itu dan Dewa dan yang satunya tidak ada. Tapi kemudian yang dia ambil yang ada Dewa Wisnu tetapi karena sudah dibayar, jadi dia mesti bayar kekurangannya saja. Walaupun sempat bingung, akhirnya dibayar juga.
Beberapa menit gantian, datang lagi rombongan remaja Jepang yang mencari dompet, sepertinya untuk souvenir. Seorang dari mereka mengerti bahasa Indonesia, dan seorang SPG mendekatinya. Tetapi mereka kemudian sibuk sendiri dan mengobrak abrik semua dompet dengan motif batik yang berbeda – beda. Setelah menemukan satu buah, dompet koin kecil, mereka mengobrak – abrik lagi koleksi dompet lainnya sambil mengeluarkan selebaran 5000-an dan mencocokkan di dompet itu. Setelah dilihat sedikit kekecilan, maka saya ambilkan sebuah dompet motif lain yang sekiranya pas untuk uang tersebut. Untungnya dia mau dan tidak masalah dengan motifnya. OK, selesai sudah urusan girly ini.
Di saat yang bersamaan, datang juga customer US atau Australia, hendak mencari merchandise aluminium. Tetapi saat hendak mengambil barang itu, tiba – tiba jatuh lagi rak ketiga tersebut dan kami sudah salah sangka jika tidak akan jatuh lagi. Customer itu terkejut bukan main dan serta merta meninggalkan tempat itu. Dia sudah merasa malu sekali dan masih shock akan hal itu. Kami juga tidak bisa berbuat apa lagi dan saya menawarkan untuk melihat koleksi lainnya yang ada di lantai 2. Tetapi dia sudah terlanjur shock dan memilih pergi. Astaga, kekacauan apa lagi ini, pikir saya dalam hati.
Selang 5 menit kemudian, datang 2 orang gadis yang sepertinya anak kuliahan, Thailand. Keduanya berbincang lama di depan aksesories berupa gantungan kunci untuk souvenir. Mereka memilih motif dan menghitung ada berapa teman pria dan wanita yang akan mereka berikan souvenir itu. Setelah mendapat beberapa barang, mereka kemudian diantar ke kasir. Tetapi wanita satunya, kembali mengambil motif lain. Saat ini, entah kenapa tas bawaannya menyenggol Fu-Rin (lonceng ala Jepang yang terbuat dari keramik) dan jatuh pecah. Dengan perasaan tidak enak hati dan sambil tersenyum, akhirnya dia mau membayar (dengan harga discount), tetapi tidak mau mengambil barang yang sebenarnya ingin dibelinya. Padahal adiknya mahasiswa itu, sudah sempat juga memecahkan candle holder di Bamboo. Mungkin ini hari sial mereka berdua.
15 menit kemudian, datang sepasang tamu lain, Rusia. Mereka hendak membeli soap dan deco plate dolphin. Entah apa maksudnya dengan tidak jadi mengambil sabun yang warna sama, tetapi yang dia pilih adalah 3 plate kecil. Tetapi saat saya akan menyerahkan ke kasir dan dia hendak berjalan pergi, tiba – tiba dia menyenggol 2 item surfing boat with dolphin. Kontan keduanya langsung pecah, dan customer tidak mau membayarnya. Tetapi kami bersikeras, karena itu sudah regulasi dan dia harus membayarnya. Karena kecewa, dia akhirnya pergi. Tetapi saya tidak mau menyerah, dan saya ikuti dia. Saat da menoleh, sekali lagi saya katakan kepadanya bahwa itu sudah aturan di sini. Dengan berat hati dia mau membayar kerugian itu, tetapi dalam hati saya merasa tidak enak hati juga telah memaksanya.
Saya sempat merenungi ada apa sebenarnya dengan hari itu. Apakah hal ini ada hubungannya dengan peristiwa kemarin ataukah memang keadaannya memang aneh. Saya bertanya pada salah seorang SPG apakah hari itu, pagi saat buka, mereka sudah “mebanten”. Dia katakana, belum karena pagi itu yang orang Bali cuman 1 cowok tetapi dia tidak mengerti hal yang begitu. Astaga, ternyata memang tidak ada yang rutin melakukannya dan tidak heran saat saya yang di sana, jadi saya yang ketiban sial.
Lebih jauh saya menelusuri sekali lagi. Dari seorang SPB, saya mendapat informasi, kalau di tempat itu memang ada penunggunya, suami istri. Sekarang saya baru menyadari mengapa semua SPG/B memilih untuk di depan counter, dan tidak ada satu pun yang berani menunggu di lantai 2. Konon, baru – baru ini, ada salah seorang dari mereka, seperti melihat ada anak kecil yang berlari naik di tangga. Tetapi setelah dicari dan ditanya ke teman – teman, ternyata tidak satu pun merasa melihatnya. Orang itu kontan merasa takut dan terkesiap dan selanjutnya tidak mau menunggu di lantai 2 lagi. Memang di lantai 2 itu ada semacam topeng Rangda dan Barong, tetapi apa benar karena hal itu. Saat awal kedatangan saya tadi, syukurnya tidak terjadi apa pun dan saya tidak melihat apa pun. Walaupun sempat juga, beberapa kali saya merasakan suara orang berlari di tangga. Tetapi walaupun saya ada di depan tangga tadi, tidak merasakan adanya keanehan. Untungnya, ucap saya dalam hati.
Kemudian SPB itu menambahkan, kalau ternyata ditempat itu, ketika berdiri, sama sekali belum pernah di “pelaspas”, yakni upacara pembersihan dan minta ijin untuk menempatinya. Sementara di Kenari sendiri sudah mengadakan upacara minta ijin saja. Mungkin tempat itu, memang seperti apa yang dikatakan SPB itu, jadi “penunggu” tempat itu, tidak heran mengusik bagi mereka yang tidak ingat kepada-NYA. Walaupun demikian, toh seharusnya apapun kegiatan itu, mesti harus dimulai dengan doa dan sembahyang.
Jam 19.10 WITA, saya memutuskan pulang, dan omzet yang saya terima waktu itu adalah 1.602.622,-. Mungkin akan bertambah sedikit lagi hingga malam hari nanti. Sampai di rumah pun saya baru ingat kalau saya ada urusan lain, yaitu membantu menyelesaikan tugas paman. Tetapi karena capek sekali dan pegal – pegal kaki, saya hanya bisa tidur supaya bisa tampill fit dan ketemu agent.
Saya benar – benar mengambil hikmah dari semua ini. Apapun aktivitasnya, tentu memulainya harus dengan doa dan doa, supaya tidak di usik dan terjadi lagi hal – hal demikian. Phew….
No comments:
Post a Comment