Sunday, November 21, 2010

"The Right Man on The Right Place and The Right Man on The Right Job" ... REALLY???


November, makin banyak yang "protes", makin banyak yang curhat tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.
Mengapa begitu?

Yang pasti saya kurang tahu, karena alasan yang tepat, hanya mereka yang tahu, bukan saya.

Mereka mendengar berita itu langsung dari HRD, tapi mengapa saya yang dilemparkan pertanyaan, "Kenapa begitu?".

Saya hanya menjawab, "Anda tahu berita itu dari HRD, jadi tanyakan itu pada mereka".

Benar kan? Kenapa malah melempar pertanyaan pada saya yang jelas - jelas tidak tahu alasannya.

Kemudian, seorang kolega baru yang "terpaksa" mengemban tugas ini malah memutuskan untuk berhenti. Kenapa?

Dulu di tempat kerja lama, 6 tahun yang lalu, dia memang pernah bekerja "di depan komputer, tapi dia kemudian malah memilih berhenti dan bekerja di divisi produksi. Kenapa?
Dia tidak tahan beban dan ujian sebagai orang kantoran maka memilih untuk bekerja di produksi yang sifatnya pekerja kasar. Saat dipindahkan ke divisi di office ini, dia justru malah merasa terbebani dan tidak kuat dengan beban yang diemban, padahal dia baru beberapa hari saja mengerjakannya. Dia memilih akan berhenti tapi bos membujuk dia pasti bisa dan nanti akan dibimbing pelan - pelan.

Apakah benar seperti itu?

Saya sering mendengar istilah "The Right Man on The Right Place and The Right Man on The Right Job". Tapi sekian lama bercokol di tempat ini, saya hanya bisa jadi "penonton setia" terhadap sepak terjang orang - orang ini (baca yang "berkuasa dan memiliki wewenang untuk itu"), mempekerjakan "the right man on the wrong job" or "the wrong man on the right job" or "the wrong man on the wrong job", which one is the most probable?
Sebenarnya saya merasa iba dengan teman - teman saya ini (baca orang - orang yang merasa "tertindas"). Entah apa yang membuat mereka "takut" di awal - awal pada tanggung jawab baru ini. Alasan mereka selalu, ya, tidak kuat. Simple :D

Lama - lama saya jadi berpikir, pekerja - pekerja di sini bermental "ketok palu, baru kerja". Prinsipnya, jika ada pekerjaan yang kelewat URGENT, maka "buanglah" sementara pekerjaan yang sedang dikerjakan saat itu, kerjakanlah terlebih dahulu pekerjaan yang URGENT ini.
Dulu saya sama seperti mereka, namun seiring jalannya waktu, saya terkadang memilih "berontak". Ada saja alasan yang saya katakan atau berusaha "Kabur" sementara dari perintah. So what???

Saya tidak melihat dan tidak bisa menduga apa sebenarnya yang ada di benak mereka. Saya mungkin akan berbuat sama seperti teman - teman ini. So what???
Pada akhirnya, you like it or you leave it. Very simple kan? Gitu aja kok repot ... :D

No comments:

Post a Comment