Friday, January 30, 2009

Renungan January 2009

Saat sedang akhir pekan begini, tak ada hal lain yang ingin saya lakukan. Sudah menjadi kebiasaan, semua pekerjaan harus saya selesaikan pada Jum’at akhir. Sabtu, walaupun kerja, adalah waktunya untuk santai. Saya tidak ingin membebani pikiran dengan pekerjaan yang terlalu banyak, walaupun meja kerja sudah berserakan file data yang harus saya input. Pekerjaan pada hari Sabtu, seharusnya tidak pernah ada. It’s free time.

Saat ini, order di perusahaan ini sudah semakin berkurang. Sudah saatnya mengefiesiensi waktu. Sabtu sudah tidak lagi membuat saya bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan yang bisa yang kerjakan Senin esok. Walaupun ada yang mengatakan hal ini adalah sebuah penundaan waktu, penundaan kerja. Saya pikir, hal ini bukan sebuah penundaan. Hanya saja saya masih menyimpan sedikit kesenangan dan kesibukan untuk dikerjakan hari Senin nanti.

Senin hingga Jum’at adalah waktunya bekerja keras. Sabtu adalah waktunya libur kerja tanpa aktivitas. Minggu, memang benar – benar hari bebas. Apapun bisa dikerjakan.

Hari ini, akhir pekan ini benar - benar merupakan perenungan buat saya, apakah saya akan benar – benar meninggalkan perusahaan yang sudah mendidik dan membimbing saya selama hampir 5 tahun ini. Saya merasa apa yang mereka ajarkan selama ini sudah sangat cukup bagi saya untuk berani menjajaki karir lainnya, yang tentunya bisa lebih mem-profesional-kan saya. Saya bangga pada diri saya, belajar di perusahaan sekarang, tahu dunia export, punya banyak teman hingga buyer/customer. Namun hal itu tidaklah cukup bagi saya. Terlalu banyak ambisi yang ingin saya kejar. Salah satunya adalah menjadi professional di bidang yang sekarang ini kuasai, Merchandiser. Menjadi Merchandiser di perusahaan sekarang sama sekali tidak menjawab rasa penasaran saya yang semakin lama semakin menumpuk. I want something more. I’m more satisfied supposed I could achieve many more in this field. I should get and learn more. That’s my goal!

Jika hal itu kemudian harus membawa saya pada keputusan untuk berhenti, apakah hal itu salah?

Saya tidak menganggap keputusan ini sebagai sebuah pelarian. Saya tidak pernah menyerah pada hal apapun. Walaupun saya tidak terlalu pintar memegang tanggung jawab saya sekarang, tetapi akan lebih bodohnya saya seandainya saya tidak berani melakukannya sekarang. Dengan pengalaman saya sekarang, saya masih merasa ada begitu banyak kekurangan yang masih belum terisi, dan saya menganggap diri saya masih tidak bisa mendapatkan jawaban itu di perusahaan ini.

I can get more, I can learn more, I can reach more.

Saya optimis bisa berkembang di luar sana, dan tidak akan bisa selamanya tetap di perusahaan sekarang. Saya sekali lagi tidak mau menganggap hal ini sebagai sebuah pelarian, tetapi sebuah titik dimana saya akan bertanggung jawab terhadap keputusan yang kelak saya ambil.

Bagi saya, setelah sekian lama kuliah, kemudian sempat cuti beberapa bulan (sama sekali tidak bekerja), hingga sekarang belajar terbang di perusahaan ini, adalah sebuah proses bagi saya untuk menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, bertindak, bertanggung jawab, berbicara, bahkan dalam segala hal. Saya bekerja bukan untuk diri saya, tetapi untuk keluarga. Hal itu yang menjadi prioritas saya saat ini. Tahap kedewasaan saya saat ini masih belum cukup, dan mungkin hal inilah yang belum membukakan jalan saya untuk bertemu jodoh yang cocok. Semoga.

No comments:

Post a Comment